youtube

Rabu, 20 April 2016

Menjadi Seorang Paskibraka

          Assalamualaikum, untuk pertama kali aku memperkenalka diri, dengan saya Geza yaitu seorang siswa dari sekolah Menengah Negeri yang terletak paling ujung dalam sebuah kabupaten, disini saya akan menceritakan pengalaman pribadi saya yang mungkin bisa menjadi koreksi untuk kita semua, karena saya seorang calon guru Agama Islam, tentu saya sangat memperhatikan hal-hal yang saya alami dari masa lalu, sehingga menjadi koreksi untuk masa yang akan mendatang. Karena masa lalu patut kita jadikan pelajaran dan menjadi bahan evaluasi yang cukup menarik.
            Dalam hal ini saya akan bercerita tentang keberadaan Islam didalam pendidikan saya menjadi seorang paskibraka, sebagaimana ini adalah penilaian menurut saya atau asumsi maupun opini dari saya sendiri yang saya tekankan disini bahwa, didalam pendidikan menjadi seorang paskibraka, nilai-nilai agama sama sekali tidak utamakan dalam hal ini, terutama didalam asrama, ketika kita lepas dari pantauan pelatih semua kepemimpinan diambil alih oleh seorang senior kami yang mungin lebih tau dan lebih paham menjadi seorang paskibraka karena mungkin dia lebih dahulu menjadi seorang paskibraka.

            Saat didalam asrama pemerintahan senior jauh  dari kata pendidikan secara umum, apalagi pendidikan secara Islam, sebagai seorang muslim tentu ketika waktu subuh kita akan melaksanankan kewajiban kita sebagai seorang muslim yaitu shalat subuh, namun disini kita malah disuruh pemanasan ketika itu dan setelahnya malah kita dinasehati diajak renungan untuk bagaimana kita menghormati orang tua, namun dari senior tersebut malah malah meninggalkan tiang agama, bagaimana kita bisa percaya kalua dia mungkin menjalankan atau mengaplikasikan apa yang dia katakana sedangkan dia sendiri tidak menghormati atau tidak patuh kepada yang menciptanya, selain itu juga ketika selepas latihan kita kembali ke asrama kita hanya dianjurkan kekamar hanya beberapa waktu dan untuk shalat saja itu hanya diberi waktu 3 sampai 5 menit, sedangkan kita shalat itukan harus khusyuk, dimana hati dan pikiran kita harus tertuju kepada Allah SWT, namun karena diberi waktu tersebut kita shalat hanya sekedar formalitas atau skedar menggugurkan kewajaiban saja.
            Mungkin cukup sekian yang saya sampaikan, ini hanyalah sebuah opini yang dapat menjadikan koreksi bukan untuk menyindir ataupun apa, namun in hanyalah kritikan dari seorang purna yang yang hanya berusaha taa kepadaNya, lebih dan kurang dari perkataan saya, saya mohon maaf sebesar-besarnya, saya akhiri dengan wassalamualaikum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar