Ini dari
angkatan perang Jawa dan takut mendapat hukuman dari Khubilai Khan, kemungkinan
besar beberapa dari mereka melarikan diri dan menetap di Kalimantan Barat.
Tahun 1745, orang Cina didatangkan besar-besaran untuk kepentingan perkongsian,
karena Sultan Sambas dan Panembahan Mempawah menggunakan tenagatenaga orang
Cina sebagai wajib rodi dipekerjakan di tambang-tambang emas. Kedatangan mereka
di Monterado membentuk kongsi Taikong (Parit Besar) dan SamtoKiaw (Tiga
Jembatan). Orangorang Cina di kalimantan Barat berasal dari tenggara Tiongkok,
mereka termasuk suku-suku Hakka, Hainan, Hokkien, Kantonis, Hokcia, dan
Tiochiu. Sebagian besar masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat bermata
pencaharian sebagai pedagang. Data statistik tahun 1930 memperlihatkan bahwa
secara persentase di Indonesia lebih banyak orang Tionghoa berkecimpung dalam
kegiatan perdagangan dibandingkan dengan orang pribumi atau Eropa. Dalam
konteks budaya, masyarakat suku Tionghoa selain mengambil strategi ekonomi dari
nenek moyang, mereka sekaligus mengadopsi sistem ekonomi yang berlaku di dunia
modern. Pola penyesuaian dengan lingkungan budaya mereka tinggal merupakan ciri
dari budaya bisnis yang diturunkan dari peradaban China. Demikian juga sumber
daya manusia yang memadai menjadikan mereka sangat unggul.
Dengan semangat
dan sumber daya China yang handal, pengusaha suku Tionghoa mampu menjalankan
bisnisnya sehingga hampir 80% perekonomian Indonesia (Usman, 2009: 14). Banyak
pengusaha-pengusaha sukses justru adalah orang Tionghoa atau keturunan
Tionghoa, meskipun suku Tionghoa jumlahnya minoritas. Ciriciri positif budaya
suku Tionghoa dalam perilaku pengusaha antara lain adalah teguh memegang janji,
ulet berusaha, tekun, hemat dan kokohnya solidaritas kelompok.
Perilaku-perilaku yang juga menonjol dalam dunia usaha adalah mementingkan
hubungan antar pribadi, saling percaya, mereka tidak melakukan negosiasi jika
tidak yakin apa yang dilakukannya, menjunjung tinggi kenikmatan hidup serta
selalu mempelajari situasi demi strategi yang tepat. Hal-hal yang dipandang
positif bagi kelompok suku Tionghoa yang berpengaruh terhadap perilaku usaha
antara lain adalah baik untuk mempunyai tujuan, mengatur perencanaan yang baik,
tidak takut gagal, berjuang tanpa henti akan ide kreatif dan inovatif, serta memikirkan
masa depan secara matang. Etos kerja mereka dipengaruhi ajaran Konfusius, yang
menekankan bahwa keseriusan dan kerajinan sebagai aspek penting dalam hidup.
Sumber : http://id.portalgaruda.org/?ref=browse&mod=viewarticle&article=349755
Tidak ada komentar:
Posting Komentar